CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Sunday

RUANG PROMOSI ANDA


Thursday

TAK MAU MENGALAH

Seorang anak lelaki disuruh ayahnya pergi ke kota untuk membeli
tepung roti. Anak lelaki itu segera berangkat berjalan kaki. Jarak
antara desa tempat tinggalnya dan kota cukup jauh juga. Di
perjalanan ia harus melewati sebuah jembatan kecil.

Kini ia tiba di ujung jembatan kecil itu. Di seberang jalan ia melihat
seorang anak lelaki lain yang berjalan ke arahnya. Mereka berdua
sama-sama berjalan di jalur yang sama. Hingga tepat di tengah-tengah
jembatan itu mereka saling berhadap-hadapan. Keduanya berhenti dan
berpandangan. Anak lelaki itu berpikir, "Wah, kurang ajar sekali
anak ini. Dia tidak mau mengalah dan memberikan jalan padaku."

Di saat yang sama, anak lelaki lain itu berpikiran hal yang sama,
"Seharusnya dia yang mengalah dan memberikan jalan padaku."

Lama keduanya saling berdiri di tengah jembatan tanpa ada satu pun yang
mau mengalah dan memberikan jalan. Keduanya sama-sama berpikir bahwa "Aku
harus berteguh hati dan kuat pendirian." Keduanya saling berpandangan tanpa
ada satupun yang berbicara atau bergerak.

Siang pun tiba. Di rumah, ayah dari anak lelaki yang hendak pergi ke
kota itu mulai cemas memikirkan mengapa anaknya belum juga kembali. Sang ayah
lalu bergegas menyusul anaknya ke kota. Hingga akhirnya ia sampai di
jembatan dan melihat ke dua anak lelaki itu saling berdiam dan
berhadap-hadapan. Sang ayah berteriak pada anak lelakinya, "Wahai
anakku, mengapa engkau berdiri di situ?"

Anak lelakinya menjawab, "Anak lelaki ini menghalangi jalanku. Ia sama
sekali tidak mau mengalah. Bagaimana aku bisa berjalan jika ia menutup
jalanku?"

Sang ayah mulai kesal. Ia lalu berkata pada anaknya, "Sudahlah anakku,
sebaiknya kau minggir dan segera pergi ke kota untuk membeli tepung.
Biar ayahmu ini yang berdiri di sini menggantikanmu dan tidak memberikan
jalan pada anak lelaki yang tidak tahu diri ini!"

Teguh hati memang boleh. Sesekali mengalah demi tercapainya
tujuan bukanlah hal yang tercela. Tetapi bukan berarti lalu kita harus
menjadi tembok bagi tercapainya tujuan orang lain bukan?

Have a positive day!

KUMIS YANG BAU

Seorang anak kecil yang masih polos menggoda bapaknya yang sedang tidur dengan mengoleskan terasi bau pada sekitar kumisnya.

Ketika bangun, ia terkejut karena menghirup bau yang sangat menyengat hidungnya. Ia mulai pindah kekamar depan, belakang, kamar belajar, keseluruh ruangan, tetapi tetap saja bau itu ada. Ia menjadi marah dan bersungut-sungut pada seisi rumah dan menyimpulkan bahwa rumah itu bau terasi, padahal bau terasi itu bukan ada ditempat lain, melainkan di atas kumis si bapak!

Demikian pula halnya dengan setiap orang disekeliling kita. Kita ingin supaya orang lain berubah, lingkungan kita berubah, tetapi yang sebetulnya kita harus terlebih dahulu menjadi baik dan 'membersihkan terasi di atas kumis' baru orang disekeliling kita berubah.

Belajar menerima orang-orang sebagaimana adanya, bukan mengharapkan mereka melakukan hal-hal yang tidak sanggup mereka lakukan, hidup menjadi lebih berbahagia baik bagi kita sendiri maupun bagi orang lain.

Kita akan menemukan orang baik kelihatan baik, orang jahat kelihatan baik, syaratnya Cuma satu, kita menjadi manusia baik. Jika kita sudah menjadi manusia baik, siapapun akan senantiasa terlihat baik. (Gede Prama)

GOODWILL SPIRIT

If you do what you always did, you’ll get what you always got.
Jika kita mengerjakan yang biasa kita kerjakan, kita akan mendapatkan yang biasa kita dapatkan.

Saya sering menjumpai orang yang mengatakan ingin merubah nasibnya.
Mereka melakukan berbagai hal untuk mencapai tujuan tersebut.

Ada yang melakukan dengan berganti perusahaan.
Ada yang melakukan dengan berpindah kota.
Ada yang melakukan dengan membuka usaha baru.

Yang aneh, tak banyak yang melakukan dengan merubah apa yang biasa dikerjakan.
Padahal jelas, jika kita mengerjakan yang biasa kita kerjakan; kita akan mendapatkan yang biasa kita dapatkan.

Mengapa kebanyakan dari kita menjadi seperti mereka.
Jawabnya sederhana. Melakukan perubahan sering menimbulkan ketidaknyamanan.
Bahkan ketika kita mendapatkan promosi pun, sering tugas baru tersebut dirasakan tidak nyaman.

Kita menjadi tidak nyaman karena harus beradaptasi dengan orang baru.
Kita menjadi tidak nyaman karena harus membuktikan pada orang lain bahwa kita mampu.
Kita menjadi tidak nyaman karena harus ini harus itu.

Untuk menyiasati hal ini, kita bisa menggunakan jurus ”IPTN”, yakni;

I – Ingat bahwa tanpa kita melakukan perubahan, tidak mungkin kita mendapatkan hasil yang berbeda
P – Paksa, Paksa, Paksa. Paksa diri untuk mulai melakukan perubahan, saat ini juga.
T – Temukan hal menyenangkan (sekecil apapun) dalam proses melakukan perubahan.
N – Nikmatilah perubahan, sebab ketika kita mulai belajar menikmati; semua menjadi lebih nikmat.

Bagaimana pendapat Anda?

KACAMATA

"Segala yang kita lihat sehari-hari mempengaruhi pikiran kita; yang kita pikirkan membentuk perilaku kita; perilaku kita akan memjadi kebiasaan; dan kebiasaan kita akan membeberkan siapa kita sebenarnya."

Di sebuah optik terkenal, seorang karyawan pembeli sedang menimang-nimang sebuah frame kacamata merek terkenal. Sorang pria lain --saya duga teman kantornya-- mendampingi.

"Udah, ambil aja! pas jatuhnya di wajah kamu!" kata temannya itu.
"Mahal man!"
"Eh, kan bukan elu yang bayar ini, kan dituker full ama kantor!"
"Iya sih, tapi belon pernah pake fame semahal ini."
"Udah, nggak usah sok."

Pegawai optik yang melayani hanya senyum-senyum mendengar percakaan ini. Selama bertahun-tahun melayani pembeli kacamata bantu, ia sudah hapal betul dengan karakter para pembeli. "Kebanyakan orang kantoran semacam mereka nggak pernah nawar serius. Malah mereka sering sengaja minta kuitansinya ditulis lebih mahal, supaya mereka dapat 'uang ekstra' dari perusahaan." tutur pegawai optik itu setelah mereka berlalu.

Pantas negeri ini menjadi salah satu negara terkorup, pikir saya. Bagaimana tidak, lha wong kacamata yang dipakai sebagai alat bantu penglihatan saja hasil ngemplang, tentu alat bantu penglihatan itu tidak akan menjadi berkat dalam pekerjaan mereka. Malah ia akan menjadi alat bantu penglihatan iblis untuk "melihat" celah-celah per-kemplang-an lebih lanjut. Kita secara tidak langsung akan diarahkan untuk melakukan (kembali) hal-hal yang tidak baik. Bukankah sekali tercebur maka kita akan semakin "basah" karenanya? Demikian pula dengan kejahatan. Sekali Anda berkompromi dengan kejahatan, Anda akan terus diikat oleh kuasa kejahatan itu.

Seperti halnya mata, nurani kita dalam beberapa hal juga memerlukan alat bantu "penglihatan". Kita harus memastikan bahwa "kacamata nurani" yang kita pakai benar-benar "bersih". Apabila "kacamata nurani" yang kita pakai "kotor" maka tentu nurani kita tidak bisa "melihat" dengan baik.

Lalu, di mana kita bisa mendapatkan alat bantu penglihatan yang "bersih" bagi nurani? Ada banyak "optik" yang membagikan "kacamata nurani" itu secara gratis, yaitu tempat-tempat ibadah sesuai dengan keyakinan kita masing-masing. Di sana nurani kita akan disegarkan setiap saat, dan kita akan dilengkapi dengan "kacamata nurani" yang kita perlukan, melalui firman dan perenungan pribadi kita. Silahkan datang dan mendapatkannya.

2 BABAK PELAJARAN TENTANG UANG

Saat rehat menikmati snack dan teh, lalu merogoh saku celana hendak
mengambil saputangan, baru saya menyadari keganjilan itu. Dompet saya tidak
ada di sana.

Mungkinkah tertinggal di mobil? Saya mengajak teman yang membawa mobil untuk
memeriksa. Sesudah tas digeledah, hasilnya nihil. Di mana ya? Di kamar
penginapan? Bukankah kami sudah mengosongkan kamar, dan mengangkut semua
barang bawaan, karena berencana langsung pulang sesudah makan siang nanti?

Ah ya, baru saya ingat. Semalam menjelang tidur, di luar kebiasaan, dompet
itu saya susupkan ke bawah bantal. Dan paginya bantal itu tak tersentuh saat
kami membereskan kamar.

Kami pun bergegas kembali ke penginapan. Isi dompet itu tak lain adalah uang
saku perjalanan kami mengikuti sidang majelis daerah sinode gereja kami.

Jumlahnya tak sampai sejuta, namun jelas saya akan kelabakan kalau benar
uang itu hilang. Belum lagi SIM dan KTP saya juga tersimpan di situ.

Sepanjang perjalanan, saya menenangkan hati. Sepertinya ada suara yang
berbisik, "Jangan mengandalkan manusia, bersandarlah kepada Tuhan." Saya
tidak tahu apakah pegawai penginapan itu cukup jujur atau culas, namun yang
pasti Tuhan itu baik.

Bagaimanapun, pikiran saya lumayan berkecamuk. Saya berusaha menepiskan
pikiran, "Kenapa aku kejatuhan sial?" Saya mencoba bersikap gagah, "Apa yang
Tuhan mau kupelajari dari peristiwa ini?"

Apakah saya mesti belajar tentang risiko keteledoran? Kok mahal amat?

Lagipula, kalau itu mata pelajarannya, saya rupanya belum lulus-lulus juga.

Banyak keteledoran yang saya lakukan, baik yang tampaknya sepele maupun yang
lumayan gawat seperti ini. Sepertinya ada suara yang menyindir, "Lalu,
seberapa murah kehati-hatian itu?"

Saya pun membayangkan konsekuensi praktis bila dompet itu betul-betul
melayang. Hm, uang sejumlah itu setara dengan honorarium menulis lebih dari
lima puluh naskah renungan harian. Dan itu berarti tertunda lagi keinginan
untuk mulai menabung. Ah, semoga saja....

Sesampai di penginapan, seorang pegawai berseragam hijau tampak sedang
lalu-lalang membereskan kamar-kamar. Begitu turun dari mobil, saya bergegas
menemuinya. "Pak, maaf, saya ketinggalan sesuatu."

Orang itu tersenyum tanggap. "O ya. Tunggu saya panggil teman saya."

Orang itu pergi, lalu tak lama kemudian muncul kembali bersama dengan
seorang rekannya. Mereka mengajak saya ke kamar. Dari rekannya itulah saya
menerima kembali dompet saya. "Tolong dihitung dulu, Pak, isinya," pinta
orang itu.

Melihat kembali dompet itu saja sebenarnya saya sudah senang. Segera saya
buka, saya hitung lembaran lima puluh ribuannya. Pas. Masih lengkap, juga
kartu-kartunya.

"Terima kasih banyak, Pak," kata saya penuh syukur. "Tuhan memberkati."

Saya bersyukur bukan hanya karena dompet itu kembali dalam keadaan utuh.

Saya bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang yang jujur, yang tidak
memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti bagi saya, uang sejumlah
itu tentunya lumayan berarti bagi mereka -- terlebih di tengah naiknya harga
berbagai kebutuhan sehari-hari seiring dengan melonjaknya harga BBM.

Ternyata di negeri yang kental dengan KKN ini, masih bisa dijumpai wong
cilik yang tak hendak mematikan hati nuraninya.

Saat meninggalkan Bukit Asri, penginapan kecil di Jl. Setiabudi, Semarang
atas itu, hati saya betul-betul asri.

Namun, rupanya pelajaran tentang uang pagi itu belum rampung. Sesampai di
gereja tempat acara diadakan, sedang berlangsung sidang pleno kedua. Salah
satu agendanya, pembacaan laporan keuangan oleh bendahara.

Bendahara antara lain mengingatkan komitmen dan konsistensi para pejabat
gereja dalam membayar iuran wajib, yang akan menunjang kelancaran
pelaksanaan program bersama. Selama ini pembayaran iuran tersebut bisa
dibilang tersendat. Ia juga menghimbau, pejabat yang mengalami kelimpahan
berkat materi, kiranya secara sukarela menyumbang melampaui jumlah minimal.

Ketika dibuka forum curah pendapat, sebuah masukan membuat saya tercenung.

Seorang pendeta mengutarakan isi hatinya secara blak-blakan. Karena duduk di
balkon, saya tidak dapat melihat sosok bapak ini. Namun, menilik uraiannya,
kemungkinan besar penampilannya amat bersahaja di tengah gedung gereja yang
megah ini.

Saya tidak ingat persis kata-katanya, namun pada pokoknya bapak itu
menyatakan bahwa jumlah minimal iuran yang ditetapkan oleh sidang masih
terasa memberatkan baginya. Ia mengakui, persepuluhan yang terkumpul dari
jemaatnya setiap bulan tidaklah seberapa. Kalau masih harus membayar iuran
wajib itu -- yang sebenarnya hanya senilai tiga potong lumpia -- ia akan
kesulitan membayar tagihan lainnya. Suara bapak itu tidak terdengar memelas.

Suaranya lantang, apa adanya: menandaskan sebuah fakta.

Lalu saya teringat pada kesaksian pendeta yang menyampaikan firman Tuhan
pagi tadi. Pendeta ini berasal dari sebuah pulau terpencil di wilayah timur
Indonesia. Setelah puluhan tahun melayani, ia tergolong hamba Tuhan yang
sukses dan diberkati. Suatu ketika seusai berkhotbah ia ditemui seorang
pengacara kondang. Pengacara yang juga kolektor mobil mewah ini merasa
tertempelak oleh khotbah yang baru saja didengarnya. Singkat cerita, ia
meneken selembar cek sebagai persembahan kasih bagi gereja itu. Nilainya?

Empat M.

Saya menghela napas. Bagaimana menjelaskan kesenjangan yang sedemikian lebar
ini? Kerap saya mendengar kata kunci itu: "iman" -- bahwa kelimpahan materi
berbanding lurus dengan kesalehan dan derajat iman kita. Terus terang saya
agak cemas dengan perhitungan iman secara matematis seperti itu. Patutkah
Pendeta A dinilai sebagai kontet secara rohani, sedangkan Pendeta B seorang
raksasa iman -- semata-mata karena kondisi keuangan mereka? Bagaimana pula
saya mesti menakar kadar keimanan saya sendiri?

Lebih aman rasanya memandang kondisi keuangan kita sebagai sesuatu yang
relatif netral. Entah kelimpahan entah kekurangan, masing-masing mengandung
risiko. Kemiskinan bisa membuat orang menyumpahi Tuhan, kekayaan pun bisa
membuat orang pongah dan berlagak tidak membutuhkan Tuhan. Jadi, sikap kita
terhadapnyalah -- bersyukur atau bersungut-sungut, menggunakannya secara
egois atau mengelolanya secara bertanggung jawab sebagai titipan Tuhan --
yang menentukan apakah uang itu menjadi berkat atau laknat. Bukankah begitu?

Dimuat di Sinar Harapan, Sabtu, 9 April 2005

APA YANG KELIATAN BAIK , BELUM TENTU BENAR

Suatu sore, seorang pemuda datang ke sebuah restoran yang menjual ayam goreng dan membeli 9 potong ayam. Ia membawa ayam gorengnya ke taman, untuk dinikmati bersama kekasihnya di bawah sinar rembulan yang romantis.Ketika membuka bungkusan ayam goreng itu, pemuda itu terkejut. Bukan ayam yang didapatinya, melainkan uang hasil penjualan restoran itu sebanyak 10jt rupiah. Pemuda itu kemudian mengembalikan uang itu dan meminta ayam goreng sebagai gantinya.Pemilik restoran, merasa kagum atas kejujuran si pemuda, menanyakan namanya dan mengatakan hendak menelpon wartawan surat kabar dan stasiun televisi agar membuat cerita tentang si pemuda. Ia akan menjadi pahlawan, sebuah contoh nilai kejujuran dan moral yang akan mengilhami yang lain!Namun pemuda yang sedang lapar itu menolaknya. "Kekasihku sedang menunggu. Aku hanya ingin ayam gorengku."Pemilik restoran menjadi semakin kagum atas sikap si pemuda yang begitu rendah hati. Ia memohon agar diijinkan menceritakan kejadian itu kepada wartawan. Pada saat itulah si pemuda jujur menjadi marah dan meminta ayam gorengnya."Aku tidak mengerti" kata pemilik restoran. "Anda adalah satu- satunya pemuda jujur di tengah dunia yang tidak jujur! Ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mengatakan kepada dunia bahwa masih ada orang-orang jujur yang mau bertindak benar. Saya mohon, beritahukan nama Anda dan juga nama wanita itu. Apakah ia istrimu?""Itulah masalahnya," kata si pemuda. "Istriku ada di rumah. Wanita di dalam mobil itu adalah kekasihku. Sekarang berikan ayamku agar aku dapat pergi dari sini."Moral of the story :Mudah untuk terlihat baik di depan orang-orang yang tidak mengenalmu. Banyak di antara kita yang melakukan perbuatan baik di sana sini, pergi ke tempat ibadah, berkata benar, dan semua orang mengira kita adalah sosok ideal yang sebenarnya tidak demikian.Yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hatimu. Tidaklah Penting berapa banyak hal yang kau perbuat atau apa yang orang lain kira tentang dirimu. Yang penting adalah hal yang terdalam. Jangan lakukan sesuatu supaya orang lain menyukaimu atau supaya seseorang kagum padamu - lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri, jadikan dirimu seseorang yang lebih baik.

APA YANG KELIATAN BAIK , BELUM TENTU BENAR

Suatu sore, seorang pemuda datang ke sebuah restoran yang menjual ayam goreng dan membeli 9 potong ayam. Ia membawa ayam gorengnya ke taman, untuk dinikmati bersama kekasihnya di bawah sinar rembulan yang romantis.Ketika membuka bungkusan ayam goreng itu, pemuda itu terkejut. Bukan ayam yang didapatinya, melainkan uang hasil penjualan restoran itu sebanyak 10jt rupiah. Pemuda itu kemudian mengembalikan uang itu dan meminta ayam goreng sebagai gantinya.Pemilik restoran, merasa kagum atas kejujuran si pemuda, menanyakan namanya dan mengatakan hendak menelpon wartawan surat kabar dan stasiun televisi agar membuat cerita tentang si pemuda. Ia akan menjadi pahlawan, sebuah contoh nilai kejujuran dan moral yang akan mengilhami yang lain!Namun pemuda yang sedang lapar itu menolaknya. "Kekasihku sedang menunggu. Aku hanya ingin ayam gorengku."Pemilik restoran menjadi semakin kagum atas sikap si pemuda yang begitu rendah hati. Ia memohon agar diijinkan menceritakan kejadian itu kepada wartawan. Pada saat itulah si pemuda jujur menjadi marah dan meminta ayam gorengnya."Aku tidak mengerti" kata pemilik restoran. "Anda adalah satu- satunya pemuda jujur di tengah dunia yang tidak jujur! Ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mengatakan kepada dunia bahwa masih ada orang-orang jujur yang mau bertindak benar. Saya mohon, beritahukan nama Anda dan juga nama wanita itu. Apakah ia istrimu?""Itulah masalahnya," kata si pemuda. "Istriku ada di rumah. Wanita di dalam mobil itu adalah kekasihku. Sekarang berikan ayamku agar aku dapat pergi dari sini."Moral of the story :Mudah untuk terlihat baik di depan orang-orang yang tidak mengenalmu. Banyak di antara kita yang melakukan perbuatan baik di sana sini, pergi ke tempat ibadah, berkata benar, dan semua orang mengira kita adalah sosok ideal yang sebenarnya tidak demikian.Yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hatimu. Tidaklah Penting berapa banyak hal yang kau perbuat atau apa yang orang lain kira tentang dirimu. Yang penting adalah hal yang terdalam. Jangan lakukan sesuatu supaya orang lain menyukaimu atau supaya seseorang kagum padamu - lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri, jadikan dirimu seseorang yang lebih baik.

AKU MAU MAMA KEMBALI

Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki yangluar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepadaPapanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, sertatindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anaklelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantasdisebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuatdemikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apayang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahipenghargaan Negara yang Tinggi kepadanya.Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telahmelakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar pendudukChina. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu,kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri,memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salahsatunya adalah Zhang Da.Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita iniuntuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangatistimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luarbiasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yangterbaik di antara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yangdilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukansampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10orang yang luar biasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da danapa yang dilakukannya, maka saya mau katakan bahwa ia luar biasa diantara 1,4 milyar penduduk China. Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudahtidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakitkeras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidakbisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi inimemaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untukmengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harusmencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harusmemikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalamkondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masihterlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini.Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerimakenyataan hidup yang pahit di dunia ini.Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa iatidak menyerah.Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukankejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannyadan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusanpemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Darirumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalamperjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijiandan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, iabergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar danmemperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu iagunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup sepertiini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dankuat. ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit.Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikanpapanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya,semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaanini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.Zhang Da menyuntik sendiri papanya.Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikiruntuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umursepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah bukubekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajarbagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya.Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Sayasungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itusudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan sepertilayaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya barutahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalahperbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisamemahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anakcerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yangsedang ada dalam hidup dan kehidupannya.Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannyaselama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampildan ahli menyuntik.Aku Mau Mama KembaliKetika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadirdalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepadaZhang Da,Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya,"Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamurindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkansampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apayang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat,pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melaluilayar televisi, mereka bisa membantumu!"Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC punberkata lagi kepadanya, "Sebut saja, mereka bisa membantumu"Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapunmenjawab, "Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisamembantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!" demikianZhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air matakarena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar daribibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya,mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnyadan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumahkecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartukemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabeleceyang dipegangnya semua akan membantunya.Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apayang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya.Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnyasejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.........................................................................Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasatikesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniaikemampuan dan kekuatan yg istimewa untuk menjalani ujian di dunia.Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya...ditiap-tiapkesulitan ada kemudahan dan Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluarkemampuan umat-Nya. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jikasekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalamikekalahan....bangkitlah!karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapasaja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.

FLEXIBILITY

It is important to plan carefully, and it is just as important to be flexible. Success and achievement usually do not end up coming about in exactly the way you planned. While it is vital to have a realistic, workable method for getting from here to there, remember to keep in mind that the plan is not the goal. To reach the goal, you may need to relinquish the original plan, or at least certain parts of the plan. Just because something goes wrong along the way and the plan doesn't work, does not mean that the goal is unreachable. It simply signals to you that it's time to be more flexible. Flexibility means being committed to your plan without being completely dependent on it. Flexibility means being open to the numerous other options available to you.For anything you want to attain, there are many ways to get there. When one path becomes blocked, don't turn back. Instead, look for a workable detour and get busymoving again. You may soon find that the going is even better than you could have imagined.

KISAH POHON APEL

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak
kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu."Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya
waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya."Ayo bermain-main lagi denganku," kata
pohon apel."Aku sedih," kata anak lelaki itu."Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf
anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu," jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon
apel."Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu."Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.


"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.


Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

GAJI PAPA BERAPA ... ?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama. "Kok, belum tidur ?" sapa Andrew
sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku
nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?"
"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.
"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa
dalam satu bulan berapa, hayo ?"
Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo satu
hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji
Rp.40.000,- dong" katanya.
"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Andrew
Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti
pakaian,Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,-
enggak ?""Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang
malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".
"Tapi Papa..." Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya
Mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya. Sambil
berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, "Maafkan
Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam
begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih
dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya
pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan
selama minggu ini"."lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.
"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,-
tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam
aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000, makanya
aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.
Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu
erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan
harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan
anaknya.

Tuesday

PAPA BACA KERAS - KERAS

Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses,
seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan
kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan
harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para
pemegang saham. Ketika ia sedang asyik
menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang
mendekatinya, berdiri tepat
disampingnya, sambil memegang buku cerita baru.

Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat
menarik perhatian Jessica, "Pa liat"! Jessica berusaha
menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil
menurunkan kaca matanya, kalimat yang keluar hanyalah
kalimat basa-basi "Wah,. Buku Baru ya Jes?",
"Ya papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan
dari ayahnya. "Baca in Jessi dong pa" pinta Jessica lembut,
"Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh" sanggah
budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatian nya
pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius.


Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah.
Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu
"pa, mama bilang papa mau baca untuk jessi"
Budi mulai agak kesal, "Jes papa sibuk, sekarang
Jessi suruh mama baca ya"
"pa, mama cibuk, terus, papa liat gambarnya lucu-lucu",
"Lain kali Jessica, sana! papa lagi banyak kerjaan"
Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar
kertas tadi, menit demi menit berlalu, Jessica menarik nafas
panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap,
dan tiba -tiba ia mulai lagi.
"pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka",
"Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI !! " kata Budi
membentaknya dengan keras, Kali ini Budi berhasil, semangat
Jessica kecil terkulai, hampir menangir, matanya berkaca-kaca
dan ia bergeser menjauhi ayahnya
" Iya pa,. lain kali ya pa?"
Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil
menyentuh lembut tangan ayahnya
ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah.
"pa kalau papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa,
supaya Jessica bisa denger" Hari demi hari telah berlalu, tanpa
terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica
kecil tidak pernah terpenuhi, Buku cerita Peri imut,
belum pernah dibacakan bagi dirinya,.Hingga suatu sore
terdengar suara hentakan keras "Buukk!!"
beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa
Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabok yang
melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi.
Tubuh Jessica mungil terhentak beberapa meter, dalam keadaan
yang begitu panik ambulance didatangkan secepatnya, selama
perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata
dengan begitu lirih "Jessi takut pa, jessi takut ma, Jessi
sayang papa mama "
darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak
tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani
Budi, Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah
janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan Permintaan sang
buah hati yang sangat sederhana,..
pun tidak terpenuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan
budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk
membacakan sebuah cerita, kini
sentuhan itu terasa sangat berarti sekali, ",...papa baca
keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger"
kata-kata jessi terngiang-ngiang kembali.

Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang
tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang
Jessica kecil tidak akan terdengar lagi, Budi mulai membuka
buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari
onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya
sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak.
Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar
halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil.
Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia
membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras,
tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras, Ia terus
membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman,
dengan berlinang air mata.
"Jessi dengar papa baca ya"
selang beberapa kata,..hatinya memohon,.lagi
"Jessi papa mohon ampun nak"
"papa sayang Jessi"
Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores
lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu Budi bersujut dan
menagis,..memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai.

Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan
kesenangan dan membagi kesedihan kita,
Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita
Karena ia Peduli kepada kita

ADAKAH "PERHATIAN TERBAIK" ITU BEGITU MAHAL BAGI
MEREKA?

BERILAH "PERHATIAN TERBAIK" WALAUPUN ITU HANYA
SEKALI

Bukankah Kesempatan untuk memberi perhatian kepada
orang-orang yang kita cintai itu sangat berharga ?

DO IT NOW

Berilah "PERHATIAN TERBAIK" bagi mereka yang kita cintai
LAKUKAN SEKARANG !! KARENA HANYA ADA SATU KESEMPATAN
UNTUK MEMPERHATIKAN DENGAN HATI KITA

Sumber : www.gsn-soeki.com

UBAH DULU YANG DI DALAM

Saat renovasi rumah, si empunya rumah sudah merencanakan memasang sebuah lukisan potret keluarga di ruang tamu yang telah ditatanya dengan indah. Lukisan itu telah dipesan melalui seorang seniman pelukis wajah yang terkenal dengan harga yang tidak murah. Tetapi, saat lukisan itu tiba di rumah dan hendak dipasang, dia merasa tidak puas dengan hasil lukisan dan meminta si pelukis merevisiya sesuai dengan gambar yang dibayangkan.

Apa daya, setelah diperbaiki hingga ketiga kalinya, tetap saja ada sesuatu yang tidak disukai pada lukisan tersebut sehingga setiap si pemilik rumah melintas ruang tamu, selalu timbul ketidakpuasan dan kekecewaan. Itu sangatlah mengganggu pikirannya. Menjadikan dirinya tidak senang, uring-uringan, jengkel, kecewa dan sebal dengan ruang tamunya yang indah itu. Semua gara-gara sebuah lukisan!

Suatu hari, datang bertamu satu keluarga sahabat ke rumah itu. Sahabat ini termasuk pengamat seni yang disegani di lingkungannya. Saat memasuki ruang tamu-setelah bertukar sapa begitu akrab dengan tuan rumah-tiba-tiba mereka bersamaan terdiam di depan lukisan potret keluarga itu. Si tuan rumah buru-buru menyela, "Teman, tolong jangan dipelototi begitu, dong. Aku tahu, lukisan itu tidak seindah seperti yang aku mau, tetapi setelah di revisi beberapa kali jadinya seperti itu, ya udah lah, mau apalagi?"

"Lho, apa yang salah dengan lukisan ini? Lukisan ini bagus sekali, sungguh aku tidak sekedar memuji. Si pelukis bisa melihat karakter objek yang dilukisnya dan menuangkan dengan baik di atas kanvas, perpaduan warna di latar belakangnya juga mampu mendukung lukisan utamanya. Betul kan, Bu?" tanyanya sambil menoleh kepada istrinya.

"Iya, lukisan ini indah dan berkarakter. Jarang-jarang kami melihat karya yang cantik seperti ini. Kamu sungguh beruntung memilikinya," si istri menambahkan dengan bersemangat. Kemudian, mereka pun asyik terlibat diskusi tentang lukisan itu.

Setelah kejadian itu, setiap melintas di ruang tamu dan melihat lukisan potret keluarga itu, dia tersenyum sendiri teringat obrolan dengan sahabatnya. Kejengkelan dan kemarahannya telah lenyap tak berbekas.



Pembaca yang budiman,
Jika sebuah lukisan tidak bisa diubah atau banyak hal lain di luar diri kita yang tidak mampu kita ubah sesuai dengan keinginan kita atau selera kita, maka tidak perlu menyalahkan keadaan! Karena sesungguhnya, belum tentu lukisan atau keadaan luar yang bermasalah, tetapi cara pandang kitalah yang berbeda. Jika kita tidak ingin kehilangan kebahagiaan maka kita harus berusaha menerima perbedaan yang ada.

Dengan mengubah cara berpikir kita yang di dalam, tentu kondisi di luar juga ikut berubah.

Pada kesempatan yang baik ini, saya mengucapkan, Selamat hari Natal 2007 dan Tahun Baru 2008! Mari kita pelihara semangat dan kebahagiaan kita, bukan dengan mengubah dunia sesuai dengan keinginan kita, tetapi menerima perubahan dengan cara mengubah yang ada di dalam diri kita terlebih dulu.

Sumber : www.andriewongso.com
www.gsn-soeki.com

Monday

Saturday

KEBIASAAN ORANG SUKSES

Kesuksesan adalah obsesi setiap insan di dunia ini. Dan apapun akan diusahakan untuk meraih sukses itu. Memang, walau ukuran sukses bagi tiap orang berbeda-beda, tetapi apapun judulnya pastilah setiap orang ingin sukses.

Mungkin banyak yang masih bingung, bagaimana sih mencapai sukses itu? Apakah harus selalu bekerja keras, pantang menyerah, dan tidak mengenal lelah?

Menurut David C. Mc Clelland, seorang guru besar di Amerika yang mendalami perjalanan orang-orang sukses di dunia, mereka yang sukses adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti mencoba, sekalipun awalnya mereka harus menemui kegagalan.

Untuk lebih jelasnya, bagi anda yang ingin sukses, coba ikuti apa saja yang dilakukan oleh orang-orang sukses berikut ini, menurut penelitian
yang telah dilakukan oleh Mc Clelland:

- Orang sukses selalu percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia. Mereka memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai keterampilan mereka, sambil tetap menyadari bahwa keterampilan inti memberi nilai kepada keterampilan lainnya. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka.

- Orang sukses mau mengambil risiko. Mereka berupaya untuk mencapai target, melakukan penghematan, membangun relasi dengan banyak orang, dan gesit mencoba sesuatu yang baru untuk mengikuti perkembangan jaman. Apapun akan dilakukan
oleh mereka untuk mencapai sukses, sepanjang jalan yang dilewatinya positif.

- Orang sukses mampu menikmati apa yang mereka kerjakan. Mereka selalu melihat pekerjaan sebagai hobi atau kesenangan. Mereka juga memilih pekerjaan yang dapat melecut semangat juang mereka. Karena orang sukses menyukai tantangan. Mereka sangat menikmati proses pencapaian kesuksesan mereka, dimanapun mereka berada.

- Orang sukses adalah orang yang tak pernah berhenti belajar. Mereka sangat menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah berakhir sekalipun kehidupan nyaris berakhir. Ilmu pengetahuan bisa didapat dari buku-buku pengetahuan, surat kabar, majalah, televisi, internet dan lain-lain. Jangan khawatir, di jaman teknologi informasi dewasa ini anda nggak akan kekurangan media untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ingat, dengan pengetahuan yang cukup, anda akan semakin percaya diri dan leluasa melangkah di dunia kerja.

- Orang sukses selalu berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan. Mereka mampu menyemangati diri sendiri untuk berhasil meraih sukses. Karena umumnya, orang sukses punya cara tersendiri untuk memotivasi diri hingga mereka dapat terus berkarya. Hebatnya, mereka pun mampu menyemangati orang lain
untuk mencapai sukses yang diinginkan.

- Orang sukses tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja. Mereka memiliki semangat yang membara dan kekuatan yang penuh untuk mencapai kesuksesan. Mereka pandai memanfaatkan waktu dengan baik dalam kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.

Nah apakah anda juga ingin sukses? Pasti lah ya…! So, kalau anda ingin sukses coba aja ikuti apa yang sering dilakukan oleh mereka yang sukses. Siapa tahu, sukses itu milik anda.

INCREASE MOTIVATION

If you want to make things happen the ability to motivate yourself and others is a crucial skill. At work, home, and everywhere in between, people use motivation to get results. Motivation requires a delicate balance of communication, structure, and incentives. These 21 tactics will help you maximize motivation in yourself and others.

Motivation
1. Consequences - Never use threats. They’ll turn people against you. But making people aware of the negative consequences of not getting results (for everyone involved) can have a big impact. This one is also big for self motivation. If you don’t get your act together, will you ever get what you want?

2. Pleasure - This is the old carrot on a stick technique. Providing pleasurable rewards creates eager and productive people.

3. Performance incentives - Appeal to people’s selfish nature. Give them the opportunity to earn more for themselves by earning more for you.

4. Detailed instructions - If you want a specific result, give specific instructions. People work better when they know exactly what’s expected.



5. Short and long term goals - Use both short and long term goals to guide the action process and create an overall philosophy.

6. Kindness - Get people on your side and they’ll want to help you. Piss them off and they’ll do everything they can to screw you over.

7. Deadlines - Many people are most productive right before a big deadline. They also have a hard time focusing until that deadline is looming overhead. Use this to your advantage by setting up a series of mini-deadlines building up to an end result.

8. Team Spirit - Create an environment of camaraderie. People work more effectively when they feel like part of team — they don’t want to let others down.

10. Recognize achievement - Make a point to recognize achievements one-on-one and also in group settings. People like to see that their work isn’t being ignored.

11. Personal stake - Think about the personal stake of others. What do they need? By understanding this you’ll be able to keep people happy and productive.

12. Concentrate on outcomes - No one likes to work with someone standing over their shoulder. Focus on outcomes — make it clear what you want and cut people loose to get it done on their own.

13. Trust and Respect - Give people the trust and respect they deserve and they’ll respond to requests much more favorably.

14. Create challenges - People are happy when they’re progressing towards a goal. Give them the opportunity to face new and difficult problems and they’ll be more enthusiastic.

15. Let people be creative - Don’t expect everyone to do things your way. Allowing people to be creative creates a more optimistic environment and can lead to awesome new ideas.

16. Constructive criticism - Often people don’t realize what they’re doing wrong. Let them know. Most people want to improve and will make an effort once they know how to do it.

17. Demand improvement - Don’t let people stagnate. Each time someone advances raise the bar a little higher (especially for yourself).

18. Make it fun - Work is most enjoyable when it doesn’t feel like work at all. Let people have fun and the positive environment will lead to better results.

19. Create opportunities - Give people the opportunity to advance. Let them know that hard work will pay off.

20. Communication - Keep the communication channels open. By being aware of potential problems you can fix them before a serious dispute arises.

21. Make it stimulating - Mix it up. Don’t ask people to do the same boring tasks all the time. A stimulating environment creates enthusiasm and the opportunity for “big picture” thinking.

Master these key points and you’ll increase motivation with a bit of hard work.

sumber : http://www.pickthebrain.com

MERAH ... JALAN TERUS

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau.Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagiia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanyamenyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jackberdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelanggaris jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atauterus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnyasambil terus melaju.

“Prit!” Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanyaberhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalamhati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlaluasing. Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Iamelompat keluar sambil membuka kedua lengannya. “Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!” “Hai, Jack.” Tanpa senyum. “Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istrisaya sedang menunggu di rumah.” “Oh ya?” Tampaknya Bob agak ragu. Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dananak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak bolehterlambat, dong.” “Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasilampu merah di persimpangan ini.” O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi. “Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampumerah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” … Aha, terkadangberdusta sedikit bisa memperlancar keadaan. “Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.” Dengan ketus Jack menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan danmenutup kaca jendelanya.

Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya.Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itusedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpaberkata-kata Bob kembali ke posnya. Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota.

Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob. “Halo Jack, Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha danberharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bob).” Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang iamengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan. Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisajadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

WATAK BERDASARKAN GOLONGAN DARAH

Golongan darah dapat mencerminkan watakmu. Believe it or not??!!

Golongan darah A :
Sikapmu lembut, tapi dalam mengambil keputusan nampak tegas. Suka mengalah dan ringan tangan. Suka membantu siapa saja yang sedang dilanda kesusahan. Sekalipun orang yang ditolongnya baru pertama kali dijumpainya, alias belum dikenal.Bahkan terkadang sifat sosialnya itu agak diluar batas kewajaran sebagai manusia. Habis udah tau punya uang pas-pasan misalnya, eh malah diberikan ke orang lain. Tapi ya itu, dia hanya akan memberikan pertolongan berdasarkan perasaan hati nurani alias nggak perlu diminta. Justru pada orang yang terang-terangan meminta padanya, dia amat nggak suka.Orang punya golongan darah A termasuk yang enggak mudah emosi. Meskipun perasaannya sebenarnya tersinggung, tapi nggak diperlihatkannya. Kecuali jika dianggapnya sudah keterlaluan banget, emosinya bisa nggak terkendali.Tapi namanya juga manusia, tetap punya kelemahan. Jika sudah merasa cape dalam mengerjakan sesuatu suka ngedumel/cuap2. he..he..he.. Bicaranya ceplas-ceplos, tanpa peduli pada perasaan orang lain. Pada orang yang jelas-jelas nggak disukainya terlalu diperlihatkan. Boro-boro mau ngobrol, dekat-dekat aja nggak mau.Pada umumnya orang yang memiliki golongan darah A sedikit pemalu. Itu sebabnya untuk bisa masuk lingkungan pergaulan butuh waktu beradaptasi cukup lama.

Golongan darah B :
Otaknya cerdas, sifatnya periang dan rasa humornya tinggi. Demen banget ngobrol, bahkan kalau sudah ketemu orang yang dianggapnya cocok, betah ngobrol sampai berjam-jam lamanya.Orang yang memiliki golongan darah B termasuk orang yang mudah bergaul. Sahabatnya ada di mana-mana. Sikapnya selalu optimis dan jika sudah mengambil keputusan, sulit sekali diubah. Pendiriannya yang keras itulah yang menjadikannya sering meraih sukses. Apa yang dicita-citakannya selalu tercapai.Kelemahan dari orang yang memiliki golongan darah B adalah kurang hati-hati. Suka pamer dan suka dipuji. Bicaranya terkadang seperti nggak pakai kontrol. Nggak jarang sering membuat lawan bicaranya tersinggung.

Golongan darah AB :
Orang yang di dalam tubuhnya mengalir golongan darah AB punya watak yang lain dari yang lain. Kalau boleh disebut, perangainya sangat istimewa yang merupakan gabungan watak atau sifat golongan darah A dan B.Begitu istimewanya, sampai-sampai isi hatinya sulit sekali ditebak, apalagi jalan pikirannya. Kalau dari kulitnya, penampilannya sehari-hari misalnya, lebih condong ke orang yang memiliki golongan darah B, seperti mudah bergaul, selalu optimis dan pendiriannya keras serta suka dipuji. Tapi sebenarnya hatinya sih cenderung ke golongan darah A. Suka mengalah dan murah hati.Bahkan teman-teman dekatnya pun sering menyebutnya sebagai manusia aneh. Habis wataknya bisa berubah 180 derajat hanya dalam waktu sekian menit. Misalnya sedang marah, tiba-tiba dia bisa tertawa terbahak-bahak. Begitu juga jika sedang santai misalnya, bisa saja tiba-tiba dia jadi sedih.Hanya saja orang yang punya golongan darah AB suka kurang percaya diri. Bawaanya selalu curiga!

Golongan darah O:
Rasa percaya dirinya oke. Pendiriannya kuat dan nggak mudah goyah. Apa yang sudah menjadi keputusannya, nggak bisa diubah dengan bujuk rayu. Tapi nggak menutup kemungkinan keputusannya itu bisa diubahnya, hanya dengan teori serta didukung alasan kuat dan masuk akal.Tapi jangan khawtir atau ragu dengan keputusan yang diambilnya. Soalnya, setiap keputusan yang diambilnya, itu merupakan hasil pemikirannya yang matang. Mengingat orang yang memiliki golongan darah O ini bijaksana.Sikap bijaksananya itulah yang membawanya nggak mudah terpengaruh pada lingkungan pergaulan yang buruk. Orang yang memiliki golongan darah O lebih suka nggak punya teman, ketimbang harus masuk lingkungan pergaulan yang buruk.Seperti pepatah mengatakan, tak ada gading yang tak retak. Begitu juga dengan orang yang memiliki golongan darah O ini! Kelemahannya, keras kepala dan terkadang pandangannya agak konvensional. Nggak suka mengalah. Dalam perdebatan misalnya, meskipun sudah tahu kalau pendapatnya itu salah, tapi tetap nggak sudi mengakuinya.

A GIFT FROM THE HEART FOR WOMAN ...

Kisah berikut ini sangat menyentuh perasaan, dikutip dari buku “Gifts From The Heart for Women” karangan Karen Kingsbury. Buku ini dapat Anda peroleh di toko buku Gramedia, maupun toko buku lainnya. Inti ceritanya kira-kira sbb :

Seorang Bayi Mungil Hanya Mampu Hidup Selama 6 Jam, Tetapi …

Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka.
Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuksang ibu dan bayi laki2 nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. “Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak”, kata sang ibu di sela tangisannya.
Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.

Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ?
Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri. Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya.
Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka..

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam…..
Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian.

Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya…

Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :
1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.

3. Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga”.

Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.

PERTAMA, cuek / tidak peduli / tidak mengerti kisah ini.

KEDUA, tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun.

KETIGA, tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, lalu mengubah cara pandang tentang hidupnya.

KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, mengubah cara pandang tentang hidupnya, lalu bergerak aktif untuk memaknai hidupnya sendiri dengan cara memberikan makna bagi kehidupan orang lain.

Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda, ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda telah berhasil mengubah hidup seseorang, dari sekedar “Hidup” menjadi “Hidup Yang Lebih Bermakna”. Mereka sungguh beruntung dengan kehadiran Anda di dunia ini.

Berhentilah Untuk Selalu Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri, Jadikanlah Kehadiran Anda Di Dunia Ini Sebagai RAHMAT Bagi Orang Banyak dan Bagi Orang2 Yang Anda Cintai (Ayah, Ibu, Saudara/i, Suami/Istri, Anak2 Anda, dst)

“Let’s share with others… Show them that WE care!”

AKU TAK SELALU DAPAT YANG AKU SUKAI

AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.

Kata-kata diatas merupakan wujud syukur.
Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting.
Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

Pertama :
Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya.

Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya. Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda.

Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.
Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Kedua:
Yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingk an diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.
Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu”. Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini.
Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.”
Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu ?” tanyanya keheranan.
Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu”.
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia.
Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki.
Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya.
Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga”.

Bersyukurlah !
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan.
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh.
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut. Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif.Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.

Sumber : http://motivasikita.wordpress.com

SENI BEKERJA

Jansen Sinamo, Sang Bapak Etos sekaligus Penulis 8 ETOS KERJA PROFESIONAL: navigator Anda menuju sukses, mengatakan dalam buku barunya tersebut bahwa manusia itu pada dasarnya adalah pencari kesuksesan. Arti sukses itu sendiri dipandang relatif oleh sebagian masyarakat dari segi pencapaiannya, namun ada satu hal yang tetap dilihat sama oleh masyarakat dari zaman apapun yakni cara untuk mencapai kesuksesan dengan 8 etos kerja berikut ini:

Kerja adalah Rahmat: Bekerja Tulus Penuh Syukur.
Bekerja adalah rahmat yang turun dari Tuhan, oleh karena itu harus kita syukuri. Bekerja dengan tulus akan membuat kita merasakan rahmat lainnya sebagai berikut:

Kita dapat menyediakan sandang-pangan untuk keluarga kita dengan gaji yang kita dapat.
Kita diberi kesempatan untuk bisa bergaul lebih luas serta meningkatkan kualitas diri ke tingkat yang lebih tinggi hingga kita bisa tumbuh dan berkembang.
Kita bisa memaksimalkan talenta kita saat bekerja.
Kita bisa mendapatkan pengakuan dan identitas diri dari masyarakat dan komunitas.

Kerja adalah Amanah: Bekerja Benar Penuh Tanggung Jawab.
Amanah melahirkan sebuah sikap tanggung jawab, dengan demikian maka tanggung jawab harus ditunaikan dengan baik dan benar bukan hanya sekedar formalitas. Rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang didelegasikan kepada kita akan menumbuhkankehendak kuat untuk melakasanakan tugas dengan benar sesuai job description untuk mencapai target yang ditetapkan.

Kerja adalah Panggilan: Bekerja Tuntas Penuh Integritas.
Dalam konteks pekerjaan, panggilan umum ini memiliki arti bahwa apa saja yang kita kerjakan hendaknya memenuhi tuntutan profesi. Profesi yang kita jalani untukmenjawab panggilan kita sebagai akuntan, hakim, dokter, dsb. Agar panggilan dapat diselesaikan hingga tuntas maka diperlukan integritas yang kuat karena dengan memegang teguh integritas maka kita dapat bekerja dengan sepenuh hati, segenap pikiran, segenap tenaga kita secara total, utuh dan menyeluruh.

Kerja adalah Aktualisasi: Bekerja Keras Penuh Semangat.
Aktualisasi adalah kekuatan yang kita pakai untuk mengubah potensi menjadi realisasi. Tujuan dari sikap aktual ini adalah agar kita terbiasa bekerja keras dan selalu tuntas untuk mencapai mimpi dan keinginan kita tanpa merubah diri kita menjadi pecandu kerja. Ada tiga cara mudah untuk meningkatkan etos kerja keras, yaitu:

Kembangkanlah visi sebagai ilham untuk bekerja keras.
Kerja keras merupakan ongkos untuk mengembangkan diri kita.
Kerja keras itu baik, menyehatkan dan menguatkan diri kita.
Kerja adalah Ibadah: Bekerja Serius Penuh Kecintaan.
Segala pekerjaan yang diberikan Tuhan kepada kita harus kita syukuri dan lakukan dengan sepenuh hati. Tidak ada tipe atau jenis pekerjaan yang lebih baik dan lebih rendah dari yang lain karena semua pekerjaan adalah sama di mata Tuhan jika kita mengerjakannya dengan serius dan penuh kecintaan. Berbekal keseriusan itu maka hasil yang akan kita peroleh juga akan lebih dari yang kita bayangkan, begitu pula jika pekerjaan yang kita lakukan didasarkan oleh rasa cinta. Seberat apapun beban pekerjaan kita, berapapun gaji yang kita dapatkan dan apapun posisi yang kita pegang akan memberikan nilai moril dan spirituil yang berbeda jika semua didasari dengan rasa cinta. Jadi ingat, bekerja serius penuh kecintaan akan melahirkan pengabdian serta dedikasi terhadap pekerjaan.

Kerja adalah Seni: Bekerja Cerdas Penuh Kreatifitas.
Bekerja keras itu perlu, namun bekerja dengan cerdas sangat dibutuhkan. Kecerdasan disini maksudnya adalah menggunakan strategi dan taktik dengan pintar untuk mengembangkan diri, memanfaatkan waktu bekerja agar tetap efektif dan efesien, melihat dan memanfaatkan peluang kerja yang ada, melahirkan karya dan buah pikiran yang inovatif dan kreatif. Hasilnya, tentu saja daya cipta kita bukan hanya disenangi oleh pemimpin perusahaan tetapi juga oleh orang lain karena semua yang kita hasilkan itu adalah karya seni.

Kerja adalah Kehormatan: Bekerja Tekun Penuh Keunggulan.
Kehormatan diri bisa kita dapatkan dengan bekerja. Melalui pekerjaan, maka kita dihormati dan dipercaya untuk memangku suatu posisi tertentu dan mengerjakan tugas yang diberikan kepada kita termasuk segala kompetensi diri yang kita miliki, kemampuan dan kesempatan dalam hidup. Rasa hormat yang terbentuk dalam diri kita akan menumbuhkan rasa percaya diri yang akan meningkatkan keinginan kita untuk bekerja lebih tekun.

Kerja adalah Pelayanan: Bekerja Paripurna Penuh Kerendahan Hati.
Tahukah Anda kalau ternyata hasil yang kita lakukan dalam bekerja bisa menjadi masukan untuk orang lain dan begitu pula sebaliknya. Sehingga dari proses tersebut kita telah memberikan kontribusi kepada orang lain agar mereka bisa hidup dan beraktivitas dengan lebih mudah. Jadi, bekerja juga bisa kita golongkan sebagai salah satu bentuk pelayanan kita terhadap orang lain.

SENI HIDUP

Setiap orang mencari kedamaian dan keharmonisan, karena inilah yang kurang dalam kehidupan kita. Dari saat ke saat kita mengalami kegelisahan, kejengkelan, ke-tidak-harmonisan, penderitaan. Saat seorang gelisah, ia juga menyebarkan penderitaan tersebut kepada orang lain - kegelisahan merembes keluar dari orang yang menderita ke sekelilingnya. Sehingga setiap orang yang berhubungan dengannya ikut menjadi jengkel dan gelisah. Tentu ini bukan cara hidup yang baik.

Seseorang harus hidup damai dengan dirinya sendiri dan juga dengan yang lain. Bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial, ia harus hidup dan berhubungan dengan masyarakat. Bagaimana kita bisa hidup damai? Bagaimana tetap harmonis dengan diri sendiri dan juga masyarakat sekitarnya sehingga orang lain bisa hidup damai dan harmonis?

Seseorang gelisah. Untuk keluar dari kegelisahan, ia harus mengetahui alasan dasar atau sebab dari kegelisahannya. Bila ia menyelidiki masalah tersebut, akan jelas bahwa pada saat ia mulai membangkitkan kekotoran dalam batin atau pikiran, ia pasti menjadi gelisah. Pikiran yang tidak murni dan kotor tidak dapat hadir bersamaan dengan kedamaian dan keharmonisan.

Bagaimana seorang membangkitkan kekotoran batin? Sekali lagi, dengan menyelidiki akan menjadi jelas, saya menjadi tidak senang saat melihat seorang bertingkahlaku tidak seperti yang saya inginkan atau sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan saya. Sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dan saya membuat ketegangan dalam diri. Sesuatu yang diinginkan tidak terjadi, karena suatu sebab, lagi-lagi saya membuat ketegangan didalam diri. Dalam hidup ini hal yang tidak diharapkan bisa terjadi, hal yang diharapkan bisa terjadi ataupun tidak, proses atau reaksi mengikat simpul-simpul ‘Gordian-knots ‘ membuat seluruh struktur mental dan jasmani menjadi tegang, penuh kenegatifan, hiduppun menjadi derita.

Satu cara untuk menyelesaikan masalah adalah dengan mengatur hal yang tidak diharapkan agar jangan terjadi dan berusaha agar semua hal terjadi seperti apa yang inginkan. Maka saya harus mengembangkan kekuatan atau saya bersandar pada orang lain yang punya kekuatan yang bisa membantu saya setiap saat sehingga segala sesuatu terjadi atas keinginan saya. Tapi ini tidak mungkin. Tidak ada seorang -pun didunia ini yang keinginannya bisa selalu terpenuhi. Jadi timbul pertanyaan bagaimana saya tidak bereaksi buta terhadap hal-hal yang tidak saya sukai? Bagaimana tidak membuat ketegangan? Bagaimana menjaga tetap damai dan harmonis?

Di India, juga negara lain, para bijaksana telah mempelajari masalah ini - masalah penderitaan manusia - dan menemukan solusinya : Bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan seorang mulai bereaksi dengan membangkitkan kemarahan, takut atau kenegatifan apa saja, secepatnya ia harus mengalihkan perhatian-nya ke hal lain. Misalnya , berdiri, mengambil segelas air, mulai minum. Kemarahannya tidak akan diper-banyak dan ia akan keluar dari kemarahan. Atau mulai menghitung: satu, dua dan seterusnya. Atau mengulang sebuah kata, kalimat atau mantra, mungkin nama dewa dewi yang dipercaya, pikiran dialihkan dan anda keluar dari kenegatifan dalam batas tertentu.

Solusi ini membantu. Dengan cara ini batin merasa bebas dari kegelisahan. Tapi sebenarnya solusi ini hanya bekerja pada lapisan sadar. Dengan mengalihkan perhatian ia menekan kenegatifan jauh kedalam bawah-sadar dan pada lapisan ini ( bawah-sadar - Admin ), tanpa ia sadari, ia melanjutkan membangkitkan dan menggandakan kekotoran yang sama. Pada permukaan terdapat lapisan ketenangan dan harmonis, tapi pada kedalaman batin terdapat gunung berapi yang tertidur yang cepat atau lambat akan meletus dengan hebat.

Pencari kebenaran batin lainnya melanjutkan pencariannya dan dengan mengalami realita dari batin-materi dalam dirinya mereka mendapatkan bahwa mengalihkan perhatian hanyalah menghindar dari masalah. Menghindar bukanlah solusi yang baik: orang harus menghadapinya. Saat kekotoran timbul dalam batin, amati saja, hadapi. Kekotoran mental akan segera berkurang secepatnya seorang mengamati-nya. Dengan perlahan kekotoran akan layu dan tercabut.

Solusi yang baik adalah menghindari dua extrim — penekanan atau bereaksi buta. Menekan kekotoran dalam bawah-sadar tidak akan mencabut kekotoran tersebut, membiarkan kekotoran batin menjelma dalam bentuk tindakan fisik atau vokal hanya akan menimbulkan masalah lebih banyak. Tapi bila seorang hanya mengamati, kekotoran akan berlalu dengan sendirinya dan kenegatifan tercabut. Ia bebas dari kekotoran batin.

Ini kedengaran bagus, tapi apakah ini benar-benar praktis? Untuk rata- rata orang apakah mudah menghadapi kekotoran batin? Saat kemarahan timbul, begitu cepat ia menguasai kita sehingga tidak sempat mengenalinya. Dikuasai oleh kemarahan, kita bertindak secara jasmani atau ucapan yang merugikan kita dan orang lain. Kemudian saat amarah telah berlalu, kita mulai menyesal, minta ampun dari orang ini dan itu atau dari Tuhan: Oh saya telah membuat kesalahan, mohon ampuni saya. Tapi saat berikutnya, ketika kita berada dalam situasi yang sama, sekali lagi kita bereaksi dengan cara yang sama. Semua penyesalan itu tidak membantu sama sekali.

Kesulitannya adalah saya tidak menyadari saat kekotoran timbul. Kekotoran dimulai dari jauh didalam bawah-sadar dan saat mencapai pikiran sadar, ia telah mendapatkan kekuatan yang begitu besar yang bisa menguasai saya dan tidak dapat di amati.

Jadi saya harus punya sekretaris pribadi sehingga saat kemarahan timbul, dia akan berkata ‘Lihat Tuan, kemarahan timbul’. Karena saya tidak tahu kapan amarah timbul, saya harus punya tiga sekretaris untuk berjaga bergantian selama 24-jam. Umpama saya mampu, saat amarah timbul dan sekretaris mengatakan: ‘Tuan lihat, kemarahan timbul ‘, hal pertama yang akan saya lakukan adalah menamparnya dan memakinya: ‘Bodoh kamu, Apakah kamu dibayar untuk mengajari aku’? Saya sudah dikuasai oleh kemarahan, tidak ada nasihat yang baik yang bisa membantu.

Meskipun saya tidak menamparnya, saya berkata ‘Terima kasih banyak, sekarang saya harus duduk dan mengamati kemarahanku’. Apakah itu mungkin? Secepatnya mata saya pejamkan dan mengamati kemarahan, segera objek kemarahan masuk kedalam pikiran - orang atau kejadian yang membuatku marah. Jadi saya tidak mengamati kemarahan itu sendiri tapi saya hanya mengamati rangsangan luar dari emosi. Ini hanya akan menggandakan kemarahan. Ini bukan solusi. Adalah sangat sulit untuk mengamati kenegatifan serta emosi yang abstrak, terpisah dari objek luar yang menyebabkannya.

Tapi orang yang telah mencapai kebenaran akhir menemukan solusi yang nyata. Ia mendapatkan saat kekotoran timbul didalam batin secara bersamaan dua hal terjadi pada tingkat fisik. Satu adalah nafas kehilangan irama yang normal. Kita mulai bernafas cepat saat kenegatifan masuk dalam batin. Ini mudah diamati. Pada tingkat yang lebih halus, semacam reaksi biokimia terjadi didalam tubuh - semacam sensasi. Setiap kekotoran akan membangkitkan satu dan lain sensasi pada satu bagian tubuh atau lainnya.

Ini adalah solusi yang praktis. Orang awam tidak bisa mengamati kekotoran batin - ketakutan, kemarahan atau emosi yang abstrak. Tapi dengan latihan dan praktek yang tepat adalah mudah mengamati pernafasan dan sensasi tubuh — keduanya langsung berhubungan dengan kekotoran batin.

Pernafasan dan sensasi akan membantu dalam dua hal. Pertama, mereka akan menjadi seperti ’sekretaris pribadi’. Secepatnya ada kekotoran timbul dalam batin, nafas akan berubah tidak normal. Ia akan teriak ‘Lihat ada yang salah’. Sayapun mulai mengamati nafas dan sensasi dan saya segera mendapatkan kekotoran berlalu.

Fenomena materi-batin ini seperti mata uang dengan dua sisi. Pada satu sisi adalah apapun pikiran atau emosi yang timbul didalam batin. Sisi lainnya adalah nafas dan sensasi dalam tubuh. Setiap pikiran atau emosi, setiap kekotoran mental mewujudkan diri dalam nafas dan sensasi pada saat itu. Jadi dengan mengamati nafas atau sensasi, saya sebetulnya mengamati kekotoran batin. Dari pada menghindari masalah, saya menghadapi kenyataan sebagaimana adanya. Kemudian saya mendapatkan bahwa kekotoran batin kehilangan kekuatannya. Saya tidak lagi bisa dikuasai seperti dulu. Bila saya bertahan, kekotoran akhirnya lenyap dan saya tetap damai dan bahagia.

Dengan cara ini, teknik mengamati diri menunjukkan kepada kita adanya dua aspek yaitu aspek dalam dan aspek luar. Sebelumnya, saya selalu melihat dengan mata terbuka lebar dan melewatkan kebenaran didalam. Saya selalu melihat keluar untuk sebab dari ketidak-bahagiannya, saya selalu menyalahkan dan mencoba merubah realitas diluar tidak mau tahu dengan realita didalam. Saya tidak mengerti bahwa sebab dari penderitaan berada didalam; didalam reaksi buta saya sendiri terhadap sensasi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Sekarang dengan berlatih, saya bisa melihat sisi lain dari mata uang. Saya bisa menyadari nafas dan juga apa yang terjadi didalam diri saya. Apapun itu, nafas atau sensasi, saya belajar hanya mengamati tanpa kehilangan keseimbangan batin. Saya berhenti bereaksi, berhenti memperbanyak penderitaan. Saya biarkan kekotoran mewujudkan diri dan berlalu.

Semakin banyak orang berlatih teknik ini, semakin cepat ia keluar dari kenegatifan. Secara berangsur batin / pikiran keluar dari kekotoran dan menjadi murni. Batin yang murni selalu penuh dengan cinta tanpa pamrih untuk semuanya, penuh belas kasih untuk penderitaan orang lain, penuh kegembiraan atas sukses dan kebahagiaan yang lain, penuh keseimbangan dalam menghadapi segala situasi.

Saat seorang mencapai tahap ini, seluruh pola kehidupannya mulai berubah. Tak mungkin lagi ia mela - kukan tindakan fisik atau vokal yang mengganggu kedamaian serta kebahagiaan orang lain. Sebaliknya batin yang seimbang tidak saja membuatnya damai, tapi juga membantu orang lain menjadi damai. Kedamaian serta keharmonisan yang terpancar dari orang tersebut akan mempengaruhi orang disekelilingnya.

Dengan belajar tetap seimbang dalam menghadapi semuanya yang dialami dalam tubuhnya, ia tidak terpengaruh lagi terhadap semuanya yang ia jumpai dalam situasi diluar. Bagaimanapun ini bukanlah malarikan diri atau tak peduli terhadap masalah duniawi. Seorang pemeditasi Vipassana menjadi lebih perasa terhadap penderitaan orang lain, dan berusaha sebisanya untuk meringankan penderitaan - tidak dengan kegelisahan tapi dengan batin yang penuh cinta, belas kasih dan seimbang. Ia belajar pengabadian suci bagaimana terlibat penuh dalam membantu orang lain dan menjaga batinnya tetap seimbang. Dengan cara ini ia tetap damai dan bahagia sewaktu bekerja untuk kedamaian dan kebahagiaan orang lain.

Inilah yang diajarkan oleh Sang Buddha : suatu Seni Hidup. Beliau tidak pernah membentuk atau mengajarkan suatu agama ( seperti yang kebanyakan orang pahami - Admin ) atau aliran. Beliau tidak pernah memerintahkan pengikutnya melakukan tata cara atau upacara formalitas kosong atau buta. Sebaliknya beliau hanya mengajarkan mengamati alam sebagaimana adanya dengan mengamati realita di dalam tubuh. Karena ketidaktahuan, seorang selalu bereaksi yang membahayakan dirinya dan juga orang lain. Tapi saat kebijaksanaan timbul - kebijaksanaan dari mengamati realita sebagai mana adanya - ia keluar dari kebiasaan bereaksi ini. Saat seorang berhenti bereaksi secara buta, ia mampu bertindak benar - tindakan yang keluar dari batin yang seimbang, batin yang melihat dan mengerti kebenaran. Tindakan demikian hanya bisa positif, kreatif, membantu dirinya dan juga orang lain.

Apa yang perlu sekarang adalah mengenal diri sendiri - demikian nasihat para bijaksana. Seorang harus mengenal diri sendiri tidak hanya pada tingkat intelek, emosi ataupun kebaktian, menerima secara buta apa yang didengar atau dibaca. Pengetahuan yang demikian tidak cukup. Seorang harus mengenal realita pada tingkat kenyataan. Seorang harus mengalami langsung realita dari fenomena materi-batin ini. Hanya ini yang akan membantu kita keluar dari penderitaan.

Pengalaman langsung atas realita dalam dirinya, teknik mengamati diri sendiri inilah yang disebut ‘Meditasi Vipassana’.Dalam bahasa India pada masa Sang Buddha, passana berarti melihat dengan mata terbuka, vipassana adalah mengamati sesuatu sebagai mana adanya, tidak sebagai apa yang terlihat. Kebenaran yang terlihat harus ditembus sampai seorang mencapai kebenaran akhir dari seluruh struktur materi-batin. Saat seorang mengalami kebenaran ini, ia akan berhenti bereaksi secara buta, menghentikan pembuatan kekotoran - dan secara alami, kekotoran yang lama akan berangsur tercabut. Ia keluar dari semua penderitaan dan merasakan kebahagiaan.

Ada tiga tahapan dalam Kursus Meditasi Vipassana. Pertama tidak melakukan tindakan fisik atau ucapan yang mengganggu kedamaian serta keharmonisan orang lain. Seseorang tidak bisa membebaskan kekotoran batinnya bila ia terus melakukan perbuatan yang hanya memperbanyak kekotoran. Jadi aturan moral ini adalah penting sebagai tahap awal dari latihan. Kemudian seorang berjanji tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berhubungan sex, tidak berbohong, tidak mabuk. Dengan mematuhi aturan tersebut diatas, seorang bisa menenangkan batinnya untuk melakukan tugas-tugas selanjutnya.

Tahap berikutnya adalah mengembangkan penguasaan atas pikiran yang liar dengan melatih untuk tetap pada satu objek: nafas mengarahkan perhatian pada nafas selama mungkin. Ini bukanlah latihan pernafasan, nafas tidak diatur, sebaliknya nafas yang alami diamati sebagaimana adanya sewaktu nafas masuk dan keluar. Dengan cara ini pikiran ditenangkan sehingga tidak dikuasai oleh kenegatifan yang kuat. Pada waktu yang sama, pikiran dipusatkan, membuatnya menjadi tajam dan menembus, berguna untuk usaha pencerahan.

Dua tahapan pertama, kehidupan yang bermoral dan penguasaan pikiran, adalah perlu dan bermanfaat. Tapi itu akan membawa pada penekanan diri, kecuali mengambil tahap ketiga - memurnikan pikiran dengan mengembangkan pencerahan kedalam diri. Ini adalah vipassana: mengalami realita diri sendiri melalui pengamatan yang tenang dan sistimatis dari fenomena materi-batin yang selalu berubah yang terwujud sebagai sensasi yang timbul dalam tubuh. Ini adalah puncak dari ajaran Sang Buddha : pemurnian diri melalui pengamatan diri.

Ini bisa dilakukan oleh semua orang. Setiap orang mengalami penderitaan, itu adalah penyakit universal yang memerlukan pengobatan universal. Bila seorang menderita karena kemarahan, itu bukan kemarahan milik Buddhis, Hindu atau Kristen. Kemarahan adalah kemarahan universal. Obat-nya pun harus universal.

Vipassana adalah obatnya. Tak akan ada yang keberatan dengan aturan yang menghormati kedamaian dan keharmonisan orang lain. Tak ada yang keberatan dengan pengembangan kontrol terhadap pikiran, mengembangkan pencerahan kedalam diri, yang membebaskan pikiran dari kenegatifan.

Vipassana adalah jalan universal yang mengamati realita sebagai mana adanya melalui pengamatan kebenaran dalam tubuh - ini adalah mengenal diri sendiri pada tingkat kenyataan dengan mengalami secara langsung. Dengan berlatih seorang keluar dari penderitaan. Dari kebenaran yang kasar, diluar dan kasat mata, menembus sampai kebenaran akhir dari materi-batin, dibalik ruang dan waktu, bidang yang terkondisi dari kenisbian: kebenaran dari pembebasan total atas semua kekotoran, semua ketidak murnian, semua penderitaan. Nama apapun yang diberikan pada kebenaran ini tidak penting. Ini adalah tujuan akhir dari semua orang.

Semoga kalian semua mengalami kebenaran akhir ini. Semoga semua orang keluar dari kekotorannya, penderitaannya. Semoga mereka menikmati kebahagiaan sejati, kedamaian sejati, keharmonisan sejati.

SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA

Sumber :www.lenterahati.wordpress.com

HIDUP MENGALIR SEPERTI AIR

Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, "Guru, saya sudah bosan
hidup. Benar-benar jenuh.
Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan
selalu gagal. Saya ingin mati." Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Guru, saya tidak sakit.
Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu
sakit. Dan penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap
kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap
kehidupan. Kemudian,
tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang
bertentangan dengan norma
kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan
ini mengalir terus,
tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita
berhenti di tempat, kita
tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit.
Kita mengundang
penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama
kehidupan membuat kita
sakit.

Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam
berumah-tangga, pertengkaran kecil
itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu
langgeng. Apa sih yang
abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat
kehidupan. Kita ingin
mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal,
kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu
benar-benar bertekad ingin
sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang
Guru.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh.
Tidak, saya tidak ingin
hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin
mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati.
Ambillah botol obat ini.
Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan
separuh sisasnya kau
minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam
kau akan mati dengan
tenang."

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya,
semua Guru yang ia
datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat
hidup. Namun, Guru yang
satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah
menawarkan racun.
Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia
menerimanya dengan
senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah
botol racun yang
disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan
ketenangan yang
tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks,
begitu santai! Tinggal 1
malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan
dari segala macam
masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama
keluarga di restoran
Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama
beberapa tahun
terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin
meninggalkan kenangan
manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya
amat harmonis. Sebelum
tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik,
"Sayang, aku mencintaimu."
Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir,
ia ingin meninggalkan
kenangan manis! Esoknya, sehabis bangun tidur, ia
membuka jendela kamar dan
melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan
tubuhnya. Dan ia tergoda
untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia
kembali ke rumah, ia
menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa
membangunkannya, ia masuk dapur
dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu
lagi untuk istrinya.
Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin
meninggalkan kenangan manis!
Sang istripun merasa aneh sekali, "Sayang, apa yang
terjadi hari ini?
Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang."

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan
setiap orang. Stafnya
pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Dan
sikap mereka pun
langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena
siang itu adalah siang
terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Tiba-tiba, segala sesuatu
di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih
toleran, bahkan
menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda.
Tiba-tiba hidup menjadi
indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri
tercinta menungguinya di
beranda depan. Kali ini justru sang istri yang
memberikan ciuman kepadanya,
"Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini
aku selalu merepotkan
kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah,
maafkan kami semua.
Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku
kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali.
Tiba-tiba, hidup menjadi
sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh
diri. Tetapi bagaimana
dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore
sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu,
rupanya sang Guru
langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang
saja botol itu. Isinya
air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam
kekinian, apabila kau
hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu
kapan saja, maka kau
akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu,
keangkuhanmu,
kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan
mengalirlah bersama sungai
kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau
akan merasa hidup.
Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan.
Itulah jalan menuju
ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang
Guru, lalu pulang ke
rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.
Konon, ia masih
mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam
kekinian. Itulah sebabnya,
ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HID

AKU MENAGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,
dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di
sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima
puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu
di tangannya.


"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu
takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi
Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian
berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku
mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang
melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu
marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya
sampai Beliau kehabisan
nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu
bata kami dan
memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan
apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ...
Kamu layak
dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh
dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata
setetes pun. Di
pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan
menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian
untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi
insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah
akan lupa tampang
adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku
berusia 8 tahun. Aku
berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk
ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya
diterima untuk
masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah
berjongkok di
halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
bungkus. Saya
mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan
hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air
matanya yang mengalir
dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin
kita bisa membiayai
keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah
cukup membaca
banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul
adikku pada
wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan
saya akan
menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu
kemudian ia
mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
uang. Aku menjulurkan
tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang
membengkak, dan
berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau
tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
kemiskinan ini." Aku,
sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan
rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
kacang yang sudah
mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
meninggalkan secarik
kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas
tidaklah mudah. Saya
akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
dan menangis dengan
air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu,
adikku berusia 17
tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku
hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di
lokasi konstruksi,
aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku
sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
masuk dan
memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu
di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku
berjalan keluar, dan
melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor
tertutup debu semen dan
pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang
pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab,
tersenyum, "Lihat bagaimana
penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka
tahu saya adalah
adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu
dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam
kata-kataku, "Aku tidak
perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun
juga! Kamu adalah
adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu.
Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,
"Saya melihat semua
gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus
memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
menarik adikku ke
dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,
ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah
diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah
pacarku pulang, aku
menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu
tidak perlu
menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan
rumah kita!" Tetapi
katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang
pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka
pada tangannya? Ia
terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus,
seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan
sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku
menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Bahkan itu
tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat
itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
mengalir deras
turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia
26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
suamiku dan aku
mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal
bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali
meninggalkan dusun,
mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku
tidak setuju juga,
mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan
menjaga ibu dan ayah
di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan
pekerjaan sebagai manajer pada departemen
pemeliharaan. Tetapi adikku
menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai
bekerja sebagai pekerja
reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel,
ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah
sakit. Suamiku dan
aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
kakinya, saya
menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan
pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti
ini. Lihat kamu
sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak
mau mendengar kami
sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak
berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu,
berita seperti apa
yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang
sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga
karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
tanganku. Tahun
itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari
dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara
perayaan itu
bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati
dan kasihi?" Tanpa
bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia
berada pada dusun
yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan
selama dua jam untuk
pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya
kehilangan satu
dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari
kepunyaannya. Ia
hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di
rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai
ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
saya bersumpah,
selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya
kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang
yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan
dalam kesempatan
yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six
times"


Mr. Tai Meng